Sandnes

Kali ini, saya mau bercerita tentang salah satu tempat yang hampir setiap minggu saya kunjungi sewaktu saya tinggal di Stavanger. Namanya Sandnes. Bukan sadness lho ya hehe…

Ini adalah salah satu kommune tetangga di bagian selatan Stavanger. Waktu tempuh sekitar 10 sampai 15 menit menyetir mobil dari pusat kota Stavanger, tidak terlalu jauh, karena bisa ditempuh via high way E18.

Satu alasan saya pertama untuk rutin berkunjung ke kommune ini adalah karena di kommune ini terdapat mesjid. Lokasi mesjid ini terletak persis di dekat terminal bis Sandnes, sehingga cukup mudah dijangkau oleh orang-orang. Walaupun di Stavanger pun terdapat mesjid, namun jarak tempuh dari kantor saya (di Forus) saat itu ke mesjid Sandnes lebih dekat dibanding ke mesjid di Stavanger. Hampir setiap hari Jumat, saya dan beberapa teman kantor, jumatan di mesjid Sandnes ini.

Alasan lain mengunjungi kommune ini adalah untuk belanja sembako, terutama daging. Tidak semua toko daging di Stavanger menjual daging halal, dan harga daging halal di Sandnes relatif lebih murah dibanding di Stavanger. Populasi kommune Sandnes memang banyak dihuni oleh kaum pendatang dari luar Norwegia, sehingga tidak heran jika banyak toko-toko Asia dan timur-tengah di kommune ini.

Salah satu toko Asia yang cukup sering saya kunjungi adalah toko Sandnes frukt og Grønt atau biasa disebut toko Ali (konon yang punya toko ini namanya Ali). Di sebelah toko ini terdapat restoran pizza dan hamburger halal yang murah meriah, cocok untuk dimakan bersama keluarga (haiah...ini bukan promosi lho ya). Di bawah mesjid Sandes pun sebenernya terdapat toko Asia yang namanya Marco. Biasanya orang lebih memilih ke toko Ali sebatas karena ukuran toko nya lebih besar dan menurut saya pribadi, lebih banyak macamnya.

Sandnes sendiri menjadi daerah yang cukup berkembang semenjak booming industri minyak dan gas di tahun 2012. Banyak foreigner profesional di bidang migas yang datang dan bekerja di Stavanger, kemudian membeli properti di Sandnes karena harganya yang memang lebih murah ketimbang di Stavanger dan lokasi yang tidak terlalu jauh jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi. Untuk ke kommune ini memang memakan waktu jika ditempuh menggunakan bis dari Stavanger Sentrum, sekitar setengah jam sampai 45 menit. Tidak heran memang jika di Stavanger banyak orang yang memilih untuk menggunakan mobil pribadi 🙂

Di kommune ini juga terdapat semacam hutan kota, dan cocok untuk bermain bersama anak-anak sewaktu udara tidak begitu dingin (spring atau summer). Website ini memberikan beberapa alternatif seputar kegiatan anak di Stavanger, dan Sandnes menjadi salah tempat yang cukup banyak terdapat pada daftar ini.

IKEA Forus

Coba lihat sekeliling isi rumah di Norwegia pada umumnya, apa ada benda yang bukan dari IKEA dalam radius 5-10 meter? 🙂

Stavanger, kota yang berpenduduk tidak lebih dari 1 juta orang, punya IKEA. Lokasinya di Forus, salah satu daerah yang penuh ditempati dengan perkantoran selain Tananger. Sepertinya pada umumnya, lokasi berdekatan dengan gudang. Untuk bisa ke IKEA, ada shuttle bus gratis dari Stavanger Sentrum setiap weekend. Ini sangat membantu untuk mereka yang belum pernah ke IKEA, mengingat lokasinya agak di pinggir kota, berbatasan dengan Sandnes kommune.

Sebagai brand yang diakui dunia, harga barang-barang IKEA di Norwegia cenderung relatif murah dibanding merek lain untuk jenis barang sejenis. Rasanya ini bertolak belakang dengan di negri kita ya? 🙂

Orang yang baru saja dari IKEA biasanya gampang dikenali. Kenapa? Karena biasanya bawa-bawa plastik karung warna biru. Sangat simple dan tanpa ada embel-embel brand apa-apa. Tapi semua orang tahu bahwa itu plastik IKEA. Bukan promosi ya, tapi memang design barang-barang IKEA cenderung ke arah minimalis dan simple, namun menarik. Memang konsumen barang-barang IKEA ini menurut saya pribadi ada dari berbagai kalangan. Menariknya lagi, mereka selalu memproduksi jenis barang dengan beberapa varian harga (tentunya dengan kualitas dan detail yang lebih baik).

Mereka selalu membuat buku katalog berupa bundle untuk promosi barang-barang baru mereka. Buku ini selalu gratis dibagikan ke orang. Walaupun menurut saya, ini sedikit overkill, apalagi di jaman seperti ini dimana informasi bisa dicari via internet. Tapi dengan bundle ini terlihat keseriusan bisnis mereka dalam memproduksi barang, membuat desain, dan yang paling jelas, menarik orang untuk datang dan membeli produk mereka.

Norsk Oljemuseum

Stavanger memang identik dengan kota minyak di Norwegia, sehingga tidak heran jika di kota ini terdapat museum minyak dan gas. Museum ini dikemas cukup apik untuk mereka yang tidak familiar dengan industri migas secara umum. Secara khusus, museum ini memang menjelaskan sejarah perkembangan industri migas di Norwegian sector – khususnya di lapangan offshore (untuk di catat, norwegia tidak memiliki lapangan migas onshore – please CMIIW)

Di dalam museum ini juga terdapat bioskop 3D dengan durasi sekitar setengah jam yang diputar dalam dua bahasa (Norsk and English), yang intinya menjelaskan bagaimana proses eksplorasi dan produksi minyak dari dalam perut bumi. Recommended untuk ditonton, tapi jangan lupa untuk cek jadwal pemutaran film nya yang dengan bahasa inggris.

Info lengkap sebenarnya bisa di lihat di sini. Menurut saya pribadi, yang menarik dari museum ini adalah simulasi interaktif nya yang cukup asik, bahkan untuk mengajak anak Anda yang masih balita sekalipun. Jangan lupa, jika Anda pelajar, bisa masuk ke museum ini gratis. Untuk umum, bayar 100NOK (ini harga di tahun 2013).

Di tempat pembelian tiket di area pintu masuk, di jual beberapa souvenir khas Stavanger. Museum ini juga sering dijadikan tempat untuk conference meeting atau training perusahaan karena mungkin lokasi nya juga yang terdapat di pusat kota.

Tebing Preikestolen & batu kejepit Kjeragbolten

Preikestolen (the pulpit rock) dan Kjeragbolten, googling aja dan pasti langsung dapet informasi serta gambar-gambar yang mau dicari. Bahkan, google streetview nya pun sudah sampai lho ke puncak preikestolen ini! Artinya apa, kita bisa merunut jalur hiking nya dari bawah sampai ke atas tebing nya…:) Untuk mereka yang tidak hobi hiking seperti saya, mungkin ini jadi pengalaman tersendiri sebelum menerjal tebing benerannya.

Seinget saya, untuk sampai ke puncak tebing preikestolen ini butuh waktu sekitar 1-2 jam dari starting point di tempat parkiran mobil atau tempat turun bis. Memang, pace masing-masing orang berbeda-beda untuk hiking, tapi rute hiking preikestolen ini (menurut saya yang jarang hiking) termasuk ringan dan nggak terlalu berat. Dengan jalan santai, paling nggak 2 jam bisa sampai ke atas. Jangan salah, orang Norwegia sering banget hiking sambil gendong bayi sampai ke puncak (tentu dengan perlengkapan yang safe).

Mereka yang masih perlu tantangan ekstra, bisa naik level ke kjerag. Saya sendiri belum pernah ke kjeragbolten ini, tapi denger2 rute hiking nya lebih naik turun dan lebih panjang, bisa memakan waktu 3-4 jam, atau bahkan lebih. Jangan lupa bawa kamera ciamik sewaktu hiking, karena sia-sia kalau sampai nggak bisa pose di atas batu kejepit ini 🙂

Rute untuk sampai ke preikestolen bisa di baca di sini. Untuk kjeragbolten, bisa di lihat di sini.

Perpustakaan (dan gratis)

Salah satu tempat yang mungkin jadi tempat wajib dikunjungi sewaktu dulu masih pacaran dulu adalah bioskop. Walaupun semenjak menikah dan punya anak, bioskop ini menjadi tempat ‘langka’ karena hampir nggak pernah di datengin lagi :p Gimana dengan bioskop di Stavanger? Hmm…

Judulnya emang perpustakaan, tapi kenapa nyambung dengan bioskop? Ya, karena salah satu bioskop atau movie theatre yang ada di Stavanger lokasinya satu tempat dengan perpustakaan di Stavanger Sentrum. Jujur aja, menurut saya, jauh lebih oke bioskop di Indonesia kemana-mana lho…:) Sempat juga dengar cerita yang sama dari temen-temen di Amerika sana (aneh ya, padahal kiblat dunia ke hollywood yang jelas-jelas ada di Amerika). Tapi, mungkin teman saya yang cerita ini selera nya mirip dengan saya, ya jadi jangan di generalisir ya 😉

Nah..Perpustakaan ini tempatnya oke punya, karena untuk bisa minjem ke buku, majalah, bahkan sampe DVD film, atau piringan musik, cukup nunjukkin  residence permit aja 🙂 Mostly, di semua perpustakaan di Stavanger memang system nya seperti ini (dan sepertinya di Norway secara umum). Tahun 2014, terakhir saya maen ke perpustakaan ini, mereka juga nyediain tempat khusus untuk mereka yang gemar main board game, dari mulai catur, game semacam ular tangga/monopoli, dsb. dengan setup meja lurus memanjang dengan kursi-kursi di kedua sisi meja nya, dan mereka yang duduk di meja ini bisa saling berhadap2an. Kebanyakan mereka pun nggak cuma maen board game ini, tapi juga sambil buka laptop karena di seluruh arena perpustakaan ini terdapat koneksi wireless internet gratis. Biasanya, banyak anak-anak sekolahan yang sengaja bawa laptop dan nongkrong sampe malem bareng temen-temennya sambil wi-fi an gratis. O ya, nggak semua tempat ada wi-fi gratis lho…Dulu, sebelum berangkat dan nggak punya pengalaman jalan-jalan ke luar negeri, selalu mikir kalau internet di luar negeri ada di mana-mana, hotspot kenceng dan gratis. Eh, ternyata, nggak juga 🙂 biasanya, ada wifi gratis, ada kocek minimal buat kopi atau teh yang musti dikeluarin buat ongkos kongkow2. Dan, kopi atau teh (baca: jajan) di Norway,,ehmm..mikir2 dulu deh dengan harganya …:)

Penasaran pengen ngubek-ngubek kaya apa? Click di sini.

Perpustakaan ini nggak cuma ada di Stavanger Sentrum koq. At least, untuk di Stavanger, ada lagi di Amfi Madla, dan juga tentunya di UiS (Universitetet i Stavanger). Selaen itu, di setiap kommune juga biasanya ada perpustakaan (dan gratis juga). Misal, perustakaan di Sola kommune bisa diliat di sini.

So, happy reading!

Toko Makanan Kita!

Tau sendiri kan, namanya orang kita, kalo udah ke negara orang, yang diinget adalah bawa sambel! hehe…bukan cuma sambel siy, tapi tetep aja, pasti nggak jauh-jauh dari bawa ransum makanan yang sesuai dengan lidah di negeri kita sendiri…bener nggak?

Di Stavanger, nggak usah khawatir bakalan kehilangan ‘rasa’ makanan Asia (Asia ya, bukan Indonesia :p) karena lumayan banyak restoran asia mulai bermunculan. Walaupun menurut saya masih di dominasi restoran Thailand (dan sayangnya belum ada restoran Indonesia), tapi banyak juga resto dari India, Vietnam, dan Cina tentunya. Kalau jalan-jalan dan liat tulisan ‘Kina Mat’, nah ini artinya ‘Chinese Food’ atau restoran yang nyediain masakan Cina 🙂

Nyari Indom*e? Ga usah khawatir. Di Stavanger ada toko asia yang selalu sedia Indom*e… Dan nggak cuma satu toko koq, ada beberapa toko asia yang emang jualan mie instant asal negeri kita ini. Produk makanan/bumbu selaen mie instant yang originally di impor dari negara kita langsung misalnya kecap manis, atau sambal AB*. Minimal, nggak akan rindu sama warung kopi 24 jam yg sedia indom*e dan kopi susu 🙂 Tentang kopi, nanti saya bahas di postingan terpisah.

Salah satu cemilan oke yang juga ada di toko asia adalah keripik singkong! Yes. Siapa yang gak pernah makan keripik singkong, coba? Di salah satu toko asia (lokasi di sini), biasanya dijual keripik singkong 2 rasa (original, dan spicy), yang keliatannya di impor dari belanda. Terakhir saya ke toko ini, bumbu rendang Kok*ta pun udah di jual. Sampe durian pun kadang ada lho di toko ini 😀

Untuk harga-harga makanan asia ini, jelas jauh lebih mahal kalau dibanding di negara kita. Tapi, ketimbang dengan beli makanan (alias jajan di luar), masak sendiri dengan beli bahan-bahan di toko asia ini relatif lebih murah koq! Apalagi, bahan makanan pokok kita seperti beras, dll umumnya udah dijual di supermarket lokal. So, tinggal nyari bumbu2 spesifik yang emang harus di cari di toko2 asia ini.

Fisik boleh jauh dari negara asal, cita-cita boleh setinggi langit, tapi lidah biasanya nggak bisa lama2 jauh dari selera kampung halaman !

Kvadrat

Sewaktu kuliah di UiS, saya cuma sempat sekali mengunjungi mal yang katanya mal terbesar di Stavanger (tepatnya di perbatasan antara Stavanger dan Sandnes). Melihat pertama kali mal ini memang terlihat besar, walaupun dari jauh nggak keliatan seperti mal (hehe…tau sendiri gimana desain mal di sini).

Begini penampakan mal nya dari tempat turun di halte bis terdekat. Klik di sini

Jarak dari Stavanger sentrum ke mal ini memang nggak terlalu deket. Dengan public bus, sekitar 20 menit sampai setengah jam perjalanan. Dengan mobil, mungkin cukup sekitar 15 menit (melalui rute E39).

Isi mal nya memang macem-macem, mulai dari supermarket, toko elektronik, toko musik, segala macem toko busana dan olahraga, sampai cafe dan restoran. Walaupun untuk cafe dan restoran, pilihannya nggak banyak (dan lagi-lagi jangan ngebayangin food court mal-mal besar di Jakarta misalnya).

Di salah satu elevator mal ini, terdapat kolam koin yang mengingatkan saya akan kolam koin yang ada di Pasaraya Blok M (kalau nggak di Blok M, mungkin di Pasaraya lain).

Biasanya setiap tahun ada juga istilah midnight sale, dimana toko-toko buka sampai malem dan menawarkan promo harga-harga diskon. Seingat saya, midnight sale di sini biasanya menjelang natal (julesalg), atau menjelang summer (sommersalg!).